𝐆𝐔𝐑𝐔 𝐓𝐄𝐋𝐀𝐃𝐀𝐍 𝐕𝐒 𝐆𝐔𝐑𝐔 𝐓𝐄𝐋𝐀𝐓𝐀𝐍

GURU TELADAN VS GURU TELATAN

Oleh : Riyan Irhamsyah, S.Pd.I

Di lingkungan sekolah, khususnya sekolah Islam, guru bukan hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan bagi para siswa. Apa yang dilakukan guru setiap hari akan lebih mudah ditiru oleh siswa dibanding sekadar nasihat yang disampaikan di dalam kelas. Karena itu, kedisiplinan dan keteladanan seorang guru menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang baik.

Namun, realita yang sering terjadi adalah masih adanya perbedaan mencolok antara guru teladan dan guru telatan.

Guru Teladan

  • Datang lebih awal, absensi tepat waktu
  • Siap mengajar sebelum KBM dimulai
  • Hadir sebelum iqamah, mengikuti salat sejak takbir pertama
  • Istiqamah menjalankan salat sunnah rawatib

Guru Telatan

  • Datang setelah jam masuk, absensi terlambat
  • Masuk kelas tergesa-gesa, kurang siap
  • Sering masbuk karena terlambat ke jamaah
  • Meninggalkan salat sunnah rawatib

Dampak yang perlu diwaspadai

Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan tanpa evaluasi dan pembinaan, budaya disiplin di sekolah akan perlahan melemah. Guru yang rajin merasa usahanya tidak dihargai karena diperlakukan sama dengan guru yang kurang disiplin. Sementara itu, siswa akan melihat keterlambatan sebagai hal biasa yang tidak memiliki konsekuensi.

Padahal, sekolah Islam seharusnya menjadi tempat lahirnya budaya disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan. Guru yang disiplin layak mendapatkan apresiasi, sedangkan guru yang masih sering terlambat perlu dibina dengan aturan yang jelas dan konsisten.

Lebih dari sekadar menit keterlambatan

Perbedaan antara guru teladan dan guru telatan bukan sekadar soal beberapa menit, tetapi tentang sikap, tanggung jawab, dan kualitas keteladanan. Siswa lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Ketika guru disiplin, siswa belajar menghargai waktu. Ketika guru menjaga salat berjamaah dan ibadah sunnah, siswa belajar pentingnya adab dan kedekatan kepada Allah. Namun ketika guru sendiri sering terlambat dan meremehkan waktu, siswa pun akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lumrah.

"Siswa lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Keteladanan bukan pilihan—itu adalah bagian dari tugas mengajar."

Solusi: sistem reward and punishment yang adil

Sekolah Islam membutuhkan sistem reward and punishment yang jelas, adil, dan konsisten. Guru yang disiplin layak mendapatkan apresiasi dan penghargaan. Sebaliknya, guru yang sering terlambat perlu dibina dan dievaluasi agar budaya profesionalisme dan nilai-nilai Islam tetap terjaga.

Sistem yang adil tidak hanya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan profesional, tetapi juga memastikan bahwa sekolah Islam benar-benar menjadi cerminan dari nilai-nilai yang diajarkannya.