Di antara hikmah yang disampaikan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah adalah:
مَا يُحِبُّ الشَّيْطَانُ أَكْثَرَ مِنَ الْمُؤْمِنِ الْحَزِينِ
“Tidak ada yang lebih disukai oleh syaitan daripada seorang mukmin yang bersedih hati.”
Ungkapan ini menggambarkan bagaimana kesedihan yang berlebihan dapat menjadi celah bagi syaitan untuk melemahkan seorang hamba. Saat hati diliputi duka, semangat ibadah menurun, harapan melemah, bahkan bisa menjerumuskan pada keputusasaan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Mā’idah: 91), bahwa syaitan berusaha menimbulkan permusuhan, kebencian, dan menghalangi manusia dari mengingat Allah dan mendirikan shalat.
Namun, Islam tidak melarang kesedihan secara mutlak. Yang dilarang adalah larut dalam kesedihan hingga menjauh dari Allah. Seorang mukmin justru diarahkan untuk mengelola perasaannya dengan cara yang benar.
Cara Mengatasi Kesedihan
Beberapa amalan yang dianjurkan:
Memperbanyak istighfar dan doa
Mendekatkan diri kepada Al-Qur’an
Menjaga shalat dengan khusyuk
Bergaul dengan orang-orang shalih
Berprasangka baik kepada Allah
Kesedihan bisa datang, tetapi jangan sampai menetap dan menguasai hati. Karena sejatinya, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar dan berharap kepada-Nya.


